Haruskah penderita polio sekolah di SLB ?

9 07 2009

“Haruskah” penderita polio sekolah di SLB ?, untuk menjawab ini mungkin sebelumnya akan saya ceritakan latar belakang pendidikan saya sebagai sesama penderita polio. Awal sekolah saya adalah di TK Pertiwi di kecamatan Semboro (lokasi pabrik gula Semboro-Jember-Jatim) sekitar tahun 1979, 100 % teman-teman saya adalah normal secara fisik. Selama di TK, saya juga mendapat pelajaran sama dengan anak-anak yang lain tidak ada beda, hanya kalau kegiatan yang membutuhkan aktivitas fisik lebih saya biasanya hanya menonton. Hampir semua teman-teman saya menerima saya, ada memang beberapa anak yang sering mengejek kaki saya dengan kata “Si Pincang” tapi tidak saya hiraukan dan akhirnya mereka diam sendiri malah akhirnya jadi teman. Masa SD saya juga saya lalui di SD biasa, tepatnya di SD Negeri II Semboro dari kelas 1-2 dan pindah ke SD Negeri Tanggul Wetan VI dari kelas 3-6, semuanya masih di kabupaten Jember. Selama di SD pun saya rata-rata juga tidak mendapat perlakuan istimewa, mungkin hanya untuk pelajaran olah raga saja ada beberapa materi yang mendapat dispensasi seperti misalnya lari, loncat dan lain-lain. Kebetulan oleh orang tua saya dimasukkan di SD yang banyak ektrakurikulernya dan setelah di tes saya ternyata cocok dengan karawitan (seni musik jawa asli) bahkan beberapa kali saya ikut lomba karawitan tingkat Kabupaten. Masa SD saya lalui dengan sukses dan juga dapat ilmu musik (karawitan). Masa SMP saya lalui di SMP Negeri I Tanggul, saya juga tidak ada dispensasi di SMP ini, kecuali olah raga. Di sini saya mulai mengenal alat musik gitar karena kebetulan ada ekstrakurikuler Folk Song, sehingga hobi musik terus berkembang walaupun di SD saya menggeluti karawitan tetapi intinya sama. 100 % teman-teman sangat menerima saya sehingga saya merasa nyaman sekolah. SMA pun saya lalui di SMA Negeri yaitu tepatnya SMA Negeri 2 Tanggul. Di sini pun saya tidak mendapat perlakuan istimewa, kecuali pelajaran olah raga. 100 % semua teman menerima meskipun saya satu-satunya siswa cacat di SMA itu. Di SMA ini pun pertama kali saya mengenal band dan membentuk sebuah band yang cukup di segani di sekolah dimana personil band lainnya fisiknya normal semua. Posisi bergengsi sebagai seorang “Gitaris” pun saya sandang di band ini. Alhamdulillah masa SMA-pun bisa saya lalui dengan sukses, yang kemudian saya teruskan di perguruan tinggi yaitu Universitas Jember. Perlu diketahui bahwa alasan orang tua memasukkan saya ke sekolah biasa bukan karena anti SLB akan tetapi karena lokasi SLB terdekat adalah di kota Jember dan itu kurang lebih 35 km dari rumah saya dan itu sangat mustahil dilakukan. Akan tetapi dengan tidak dimasukkannya saya di SLB ada hikmah besar yang secara tidak langsung bisa saya petik yaitu :

  • Saya jadi terbiasa bergaul dengan anak-anak normal. Tidak ada rasa rendah diri/minder. Penuh percaya diri. Bahkan saya merasa dibeberapa kesempatan saya merasa menjadi anak normal.

Rasa percaya diri yang besar inilah yang mengantarkan saya untuk tidak ragu menggapai masa depan. Kuliah di perguruan tinggi dan aktifitas-aktifitas sosial lainnya saya lakukan dengan penuh semangat dan percaya diri. Pekerjaan sebagai seorang guru yang saya jalani sekarang juga saya raih dengan percaya diri. Bahkan melamar gadis idaman-pun saya lakukan sendiri dan Alhamdulillah sekarang sudah jadi istri saya dan telah dikaruniai seorang anak laki-laki.

Jadi kalau menurut saya dengan berkaca dari pengalaman saya pribadi maka dalam kaitannya dengan perlukah seorang penderita polio bersekolah di SLB maka jawaban saya adalah :

  • Walaupun kondisi fisiknya kurang akan tetapi selama anak tersebut bisa berfikir secara normal dan  (maaf) tidak tuna netra maka anak tersebut menurut saya tidak harus sekolah di SLB.
  • Kalau memang memilih sekolah umum maka usahakan memilih sekolah yang banyak kegiatan ekstra kurikuler-nya karena hal itu akan sangat bermanfaat sekali untuk masa depannya dan orang tua harus mendukung dan memfasilitasi sepenuhnya.

Sekali lagi untuk orang tua yang anaknya menderita polio dan rumahnya jauh dari SLB maka jangan berkecil hati, sekolah umum-pun cukup, asal jangan lupa bakat-bakatnya terus digali, setelah ketemu didukung dan dikembangkan karena sekali lagi, insyaallah kelak akan bermanfaat untuk masa depannya. Sukses.


Aksi

Information

3 responses

9 07 2009
sistem informasi sekolah terpadu

kenapa mesti di SLB??? disekolah biasa pun bisa karena mereka itu mampu…
Info yang sangat menarik trim’s

14 07 2009
classically

Terima kasih sdh mampir di blogku..
Tentu saja jk ingin ebrbagi sajak..
Saya tunggu ya..^^
Sukses selalu untuk anda, jgn mudah menyerah ya..

7 08 2009
antok

aku suka artikelnya. buat motivasi yang lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: