Ketika Mantan Guru Dan Mantan Murid Bicara Koperasi

10 06 2017

Siang itu setelah berusaha berdoa dengan khusyuk memohon ridhoNya untuk keselamatan keluarga dan bangsa ini, maka saya akhiri Sholat dhuhur dengan sholat sunah 2 rokaat. Sejenak, setelah salam, perasaan sejuk, damai dan nyaman seakan menyelimuti diri. Luar biasa. Ini mungkin salah satu yang disebut dengan The mysterious effect of the Sholat.

Arloji saya masih menunjukkan pukul 11.35. Alhamdulillah ujar saya dalam hati karena masih ada waktu satu jam lebih untuk istirahat sebelum harus kembali ke kantor jam 13.00. Saya langkahkan kaki mencari sudut yang nyaman di masjid itu untuk duduk sekedar menikmati detik demi detik waktu istirahat saya yang terus berlalu.

“Assallamualaikum Pak Ido,” tiba-tiba terdengar suara dari arah samping kanan saya.

“Waallaikumsalam,” jawab saya sambil menoleh.

Ternyata salam tersebut berasal dari seorang pemuda berusia kira-kira 25 tahun-an. Segera memori saya yang sudah berumur 45 tahun ini otomatis bekerja. Mencari tahu siapakah dia dan hasilnya saya tetap lupa siapa dia. Kemudian dia menghampiri saya. Kami berjabat tangan dan setelah beberapa menit percakapan, akhirnya saya tahu bahwa dia adalah Rohim, nama lengkapnya Abdul Rohim, mantan murid saya di SMP Negeri 9 Jember dulu, saat saya masih menjadi guru honorer.

Setelah ditambah beberapa menit percakapan, akhirnya saya tahu bahwa dia sekarang bekerja di salah satu koperasi simpan pinjam di daerah Rambipuji, salah satu kecamatan di Jember. Dia akhirnya juga mengetahui bahwa saya bukan seorang guru IPS lagi melainkan salah satu staf di Pemkab Jember. Suasana akrab dan santai segera terjalin dan seiring dengan berjalannya waktu, percakapan terus berkembang ke berbagai hal hingga membahas masalah koperasi.

“Bagaimana perkembangan koperasi tempatmu bekerja Him?” tanya saya

“Bisa dikatakan gitu-gitu aja Pak,” jawab Rohim, “masih tetap seputar simpan pinjam, belum ada ekspansi usaha, jumlah nasabah dari tahun ke tahun naik tapi tidak signifikan, ditambah ada beberapa kredit macet Pak.”

“Ya begitulah rata-rata wajah koperasi kita Him, dua kata kunci yaitu tidak maju,” kata saya

Pembicaraan seputar koperasi tempat Rohim bekerja berlangsung beberapa saat. Hingga muncul sebuah pertanyaan dari Rohim yang cukup mengejutkan saya.

“Maaf Pak, kalau saya nggak salah, Pak Ido kan seorang sarjana ekonomi, dan dulu waktu mengajar saya mata pelajaran IPS, saya masih ingat Pak Ido pernah menjelaskan tentang koperasi di Indonesia,” kata Rohim, “kalau boleh tanya Pak, menurut Bapak bagaimana dengan kondisi koperasi di Indonesia saat ini?” tanya Rohim.

“Wah, berat juga pertanyaanmu Him,” jawab saya sambil menghela nafas dan senyum.

Sejenak saya berusaha memasang wajah santai, walaupun sebenarnya otak terus menghimpun data dari masa lalu saat menjadi guru IPS dan dirangkai dengan berbagai data update tentang ekonomi koperasi yang sempat saya baca saat browsing. Dengan tenang saya mulai menjawab pertanyaan Rohim.

“Begini Him, memang pertumbuhan koperasi saat ini tidak seperti zaman orde baru dulu. Zaman orde baru itu zamannya Pak Harto Him!. Banyak orang tahu bahwa saat era orde baru, pemerintah sangat memanjakan koperasi, berbagai jenis koperasi dari berbagai jenjang hingga ke tingkat desa difasilitasi. Masyarakat Indonesia tentu tidak akan pernah lupa dengan istilah Koperasi Unit Desa atau KUD yang tumbuh subur dihampir semua desa di Indonesia,” kata saya menjelaskan.

“Berarti keberpihakan pemerintah secara nasional terhadap koperasi perlahan mulai menyusut ya Pak,” tanya Rohim menanggapi.

Saya tertawa lirih menanggapi pernyataan Rohim. Saya jelaskan bahwa saya tidak bilang bahwa koperasi di zaman reformasi ini terbengkalai, tetapi saya tegaskan bahwa pembinaan koperasi secara nasional tidak segegap gempita seperti di era orde baru. Koperasi di Indonesia tetap mendapat porsi pembinaan pemerintah secara nasional. Terutama di era pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Sejenak saya berhenti untuk melihat handphone saya. Setelah beberapa saat sentuh kiri kanan dan atas bawah layar, saya kemudian melanjutkan. Saya sampaikan kepada Rohim bahwa banyak para penggiat koperasi yang menaruh harapan besar di pemerintahan Presiden Joko Widodo ini agar koperasi menjadi anak emas lagi dalam perekonomian Indonesia. Saya menambahkan bahwa harapan ini ternyata bukan hanya hisapan jempol belaka, karena dari beberapa artikel yang saya baca di internet, pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM mulai melakukan reformasi koperasi sebagai langkah awal menata kembali perkoperasian di Indonesia, bahkan Pak Jokowi mengatakan bahwa pemerintah akan membagikan 2,7 juta hektar lahan kepada beberapa pihak dan diantaranya yang menerima adalah koperasi.

“Bagus kalau gitu Pak dan moga segera terealisasi,” Rohim menanggapi.

Saya tersenyum mendengar pernyataan Rohim. Setelah mengambil nafas panjang selanjutnya saya menjelaskan kepada Rohim bahwa problem yang membelit koperasi sebenarnya klasik dan bisa dengan mudah diketahui diantaranya yaitu permodalan, daya saing lemah, sumber daya manusia yang mengelola koperasi tersebut tidak berkualitas dan rendahnya kesadaran berkoperasi para anggota, seperti misalnya tidak menyetorkan iuran wajib kepada koperasi. Rohim tampak manggut-manggut menanggapi penjelasan saya.

“Trus bagaimana ya Pak, caranya agar perkoperasian di Indonesia bisa maju?” tanya Rohim selanjutnya.

“Banyak Him yang harus dilakukan, langkah awal ya…reformasi koperasi dulu, baik secara lokal yang dilakukan oleh manajemen internal suatu koperasi maupun secara nasional yang dilakukan oleh pemerintah,” jawab saya lirih.

Sambil merubah posisi duduk, saya menambahkan bahwa yang dimaksud reformasi lokal adalah pembenahan ke dalam dari suatu organisasi, antara lain menyiapkan sumber daya manusia yang profesional, pengelolaan administrasi yang baik sehingga dapat menghasilkan pengelolaan finansial yang baik pula, membangun koperasi berbasis IT, penguatan kelembagaan koperasi, dan mendorong koperasi meningkatkan jumlah anggota koperasi dan masih banyak lagi terobosan-terobosan lain yang bisa dilakukan yang tujuannya tak lain adalah agar koperasi bisa terus eksis dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian di era modern saat ini.

Sekilas saya lihat Rohim sepertinya mendengarkan dengan seksama. Aneh, padahal seingat saya dulu saat saya menerangkan pelajaran, dia termasuk yang suka tidur. Tetapi sudahlah mungkin ini karena faktor usia juga. Tanpa memusingkan apa yang ada dalam benak Rohim, saya kemudian melanjutkan menjelaskan, bahwa yang saya maksud dengan reformasi nasional adalah pembenahan koperasi secara nasional yang merupakan kapasitas pemerintah untuk melaksanakannya seperti mengkaji regulasi yang menghambat berkembangnya koperasi, pembubaran koperasi yang sudah tidak aktif, pemberian permodalan melalui penyaluran kredit usaha rakyat (KUR), penurunan suku bunga pinjaman modal, dan juga sosialisasi dan pelatihan pemanfaatan teknologi untuk koperasi.

Saya juga menambahkan bahwa mungkin sudah saatnya Kementerian Koperasi dan UKM diberi wewenang lebih untuk mengonsolidasikan fungsi lintas kementerian strategis terkait agar koperasi dapat segera meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional dan masih banyak lagi terobosan-terobosan lain yang bisa dilakukan, yang intinya bersifat makro. Langkah-langkah strategis semacam inilah yang harus ditempuh pemerintah agar impian para founding father kita bahwa koperasi bisa menjadi soko guru perekonomian Indonesia terutama di era modern dan teknologi ini bisa terwujud.

“Begitu ya pak, wah ternyata Pak Ido masih top markotop juga ya meskipun sudah lama nggak ngajar,” kata Rohim.

“Ya…kuncinya suka membaca Him, apalagi sekarang dengan adanya smartphone, informasi apapun bisa kita akses dengan mudah dan lagian apa yang saya sampaikan ini juga masih banyak kekurangan, ini kan sekedar pendapat dari seorang mantan guru IPS,” jawab saya sambil tertawa.

Sambil melihat arloji yang sudah menunjukkan pukul 12.30, saya kemudian memberitahu Rohim bahwa di Indonesia juga ada sejumlah koperasi yang sudah sukses menjadi koperasi modern. Salah satunya adalah Koperasi Kareb yang berada di Jawa Timur. Koperasi Kareb merupakan singkatan dari Koperasi Karyawan Redrying Bojonegoro. Koperasi ini awalnya adalah koperasi karyawan bentukan dari Perum Pengeringan Tembakau Bojonegoro (PPTB). Pada tahun 1990 pemerintah memutuskan untuk menutup Perum Pengeringan Tembakau Bojonegoro (PPTB) ini. Tetapi sebuah langkah mengejutkan diambil oleh sekitar 300 orang karyawan yang juga sekaligus anggota Koperasi Kareb di Perum Pengeringan Tembakau Bojonegoro (PPTB) tersebut. Mereka secara berani melakukan proses akuisisi alias membeli sendiri pabrik tempat mereka bekerja itu menjadi aset koperasi. Dengan pola pembayaran diangsur selama 5 tahun, pabrik itu akhirnya bisa dikuasai secara sah dan dimasukkan kedalam neraca koperasi sebagai aset dan para karyawan pun akhirnya bisa terhindar dari PHK.

Rohim tampak semakin antusias dengan penjelasan saya ini. Setelah sekali lagi saya menoleh ke arah arloji saya yang sudah menunjukkan pukul 12.45, saya kembali melanjutkan bahwa dengan keberadaan pabrik tersebut kini Koperasi Kareb telah menjadi salah satu koperasi yang berkembang pesat dan modern dengan berbagai usaha lain selain pengolahan tembakau yaitu pengeringan atau redrying, pengepakan, bisnis transportasi dengan memiliki sejumlah armada angkutan, dan juga bisnis simpan pinjam. Koperasi Kareb pun telah diakui oleh pemerintah menjadi koperasi berskala besar pada tahun 2012.

“Wah hebat ya Pak,” Rohim menanggapi.

“Ya begitulah Him, Koperasi Kareb adalah salah satu contoh dari beberapa koperasi hebat lainnya yang sudah bisa dikatakan sukses menganut konsep koperasi modern. Singkat cerita agar perkoperasian di Indonesia bisa terus ikut berperan aktif dan berkontribusi maksimal dalam perekonomian di era modern ini maka reformasi lokal dan nasional itulah kuncinya menurut saya,” tegas saya.

Rohim pun mengangkat jempol sambil tersenyum. Tanpa terasa kurang lima menit lagi waktu istirahat saya sudah usai. Akhirnya setelah sebentar terlibat dalam percakapan untuk mengakhiri pertemuan tidak resmi di masjid tersebut, kami akhirnya berpisah. Saya puas karena setidaknya sudah mengeluarkan uneg-uneg tentang koperasi meski hanya kepada seorang Rohim dan Rohim pun mungkin juga bisa menambah sedikit referensi tentang koperasi. Sebuah institusi tempat dia bekerja sekarang.(Ido/Juni 2017)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: