KOPERASI MODERN = NO BANK PLECIT

15 07 2017

Sabtu siang itu udara sangat panas di Kota Jember. Arloji ditangan sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB.  Seharian berkeliling di pinggiran kota Jember untuk mencari lembaga koperasi sebagai bahan tulisan feature lomba karya tulis koperasi dan UKM untuk sub tema blogger yaitu koperasi era modern, akan tetapi dari beberapa koperasi yang saya datangi, belum satupun yang mengena di hati, untuk dijadikan bahan tulisan feature dengan tema koperasi era modern.

 

Tak terasa motor saya sudah memasuki kawasan kampus Universitas Jember. Tepatnya di jalan Kalimantan. Suara adzan dhuhur sudah mulai terdengar di sepanjang jalan yang saya lalui. Saya memutuskan untuk mampir sholat dhuhur di masjid Sunan Kalijogo yang juga berlokasi di sepanjang jalan Kalimantan. Setelah sholat dan sebentar nglurusno boyok (bahasa jawa = rebahan) kemudian saya memutuskan untuk meneruskan mencari lembaga koperasi di sekitar pusat kota Jember. Memang saya target hari itu harus sudah selesai misi mencari koperasi ini karena di samping tenggat waktu pengiriman naskah lomba karya tulis koperasi dan UKM ini yang sudah hampir habis, juga karena waktu luang saya untuk misi mencari koperasi ini hanya bisa di hari Sabtu. Selain hari Sabtu saya harus bekerja sebagai staf di Pemerintah Kabupaten Jember.

 

Lapar. Ya, terdengar suara jeritan dari perut saya. Tanda minta untuk di isi. Setelah keluar dari area masjid, saya memutuskan untuk mencari warung nasi dulu. Kebetulan tak beberapa jauh dari masjid Sunan Kalijogo banyak berderet warung nasi mulai dari lalapan hingga bakso, lengkap dan tinggal pilih. Akhirnya saya memutuskan untuk singgah di warung lalapan. Setelah memarkir motor, saya masuk warung. Hanya sebuah tenda dari terpal sebagai atapnya dan trotoar beralaskan karpet, lesehan. Konsep lesehan memang diterapkan hampir di semua warung di sepanjang jalan Kalimantan ini. Sementara untuk makanannya di tata sedemikian rupa di sebuah rombong.

 

“Lalapan gurami Bu, satu!” seru saya kepada ibu pemilik warung.

“Iya Pak, minumnya apa ya Pak?” tanya ibu pemilik warung.

“Es teh Bu, tolong jangan terlalu manis ya Bu,” pinta saya.

“Baik Pak, di tunggu,” jawab ibu pemilik warung.

 

Dengan di bantu oleh seorang asisten, maka ibu pemilik warung tersebut segera menyiapkan pesanan saya. Suasana di dalam warung cukup lengang, karena kebetulan hanya saya pembeli satu-satunya. Tak beberapa lama kemudian pesanan saya sudah siap. Seekor ikan gurami tanggung, sepiring nasi, lalapan dan tak lupa sambal serta segelas es teh sudah tersaji di depan saya. Perlahan tapi pasti, segera saya menyantap hidangan tersebut.

 

“Assallamualaikum Bu,”tiba-tiba terdengar suara.

 

Reflek segera saya menoleh, tampak seorang pria dengan pakaian formal lengkap bersepatu kantoran berusia 35 tahunan sudah berdiri dekat rombong sambil memegang sebuah buku mirip buku agenda. Karena letak rombong dekat dengan rombong maka mau tidak mau saya mendengar apa yang dibicarakan oleh pria tersebut dengan ibu pemilik warung.

 

“Waallaikumsalam,” jawab ibu pemilik warung.

“Gimana bu, ada kan setorannya?” tanya pria tersebut.

“Waduh Pak, lagi sepi ini, separuh dulu ya,” jawab ibu pemilik warung dengan suara agak memelas.

“Masak sepi bu, ini daerah kampus lho,” jawab pria tersebut dengan suara agak tinggi.

“Memang Pak, tapi kan tahu sendiri banyak saingan,” jawab ibu pemilik warung menjelaskan.

 

Sambil terus mendengarkan percakapan mereka, saya membalik ikan gurami goreng dihadapan saya. Perlu saya balik karena satu sisi sudah bersih hingga tampak tulangnya yang menonjol keluar sehingga saya perlu sisi satunya yang masih banyak dagingnya. Dari percakapan mereka akhirnya saya tahu bahwa pria tersebut adalah petugas bank plecit yang sedang menagih setoran. Bank plecit bisa dikatakan sebagai lembaga keuangan ilegal yang biasanya milik perorangan atau bahkan berkedok koperasi simpan pinjam. Yang sering beroperasi di warung-warung kecil. Bahkan operasi mereka sebagian besar malah di pelosok desa. Orang-orang di Jember menyebut mereka sebagai bank plecit atau bank titil. Namun mereka tak ubahnya seperti rentenir yang sangat intens membujuk para pedagang, hingga akhirnya mereka tergoda meminjam uang meskipun bunganya sangat tinggi.

 

“Ya sudah Bu, separuh dulu gak apa-apa. Besok harus dibayar lho separuhnya,” jawab petugas bank plecit tersebut dengan nada agak tinggi.

“Ya Pak,” jawab ibu pemilik warung tersebut sambil membuka dompetnya dan kemudian menyerahkan beberapa lembar uang kepada petugas bank plecit tersebut.

 

Pria itu pun akhirnya pergi tanpa mengucap salam sebagaimana yang dilakukan saat pertama masuk warung tadi. Mungkin lupa karena agak marah, maklum mereka juga di kejar target juga. Setelah meneguk es teh saya iseng bertanya kepada ibu pemilik warung tersebut.

 

“Orang tadi itu petugas bank plecit ya Bu?”tanya saya.

“Ya Pak, mereka memang setiap hari datang mengambil setoran,” jawab ibu pemilik warung menjelaskan.

“Kalau boleh tahu, berapa sih pinjaman Ibu dan berapa setorannya per hari?”tanya saya.

“Saya pinjam 200 ribu Pak, tapi terimanya cuman 180 ribu, dipotong 20 ribu untuk administrasi katanya. Karena saya butuh ya saya setuju saja. Saya per harinya bayar 10 ribu karena per 100 ribunya setorannya sebesar 5 ribu rupiah per hari. Jadi karena saya pinjam 200 ribu maka setoran saya setiap hari 10 ribu rupiah Pak. Lama angsuran harus 24 hari Pak” jawab ibu pemilik warung menjelaskan.

“Wow besar juga ya bunganya. Total mereka dapat untung 60 ribu selama 24 hari itu, dari 20 ribu uang administrasi plus 40 ribu hasil setoran selama 24 hari ya Bu,”jelas saya.

“Ya begitulah Pak. Sebenarnya juga berat. Terutama bagi mereka yang pinjam uang dalam jumlah agak banyak,”jawab ibu pemilik warung datar.

“Syaratnya apa Bu untuk bisa pinjam uang kepada mereka?”tanya saya.

“Cukup KTP Pak, tanpa jaminan apa-apa, pinjam hari ini besok langsung diantar uangnya,” jawab ibu pemilik warung.

“Kok nggak pinjam ke Bank atau Koperasi aja bu, kan lebih murah?”tanya saya.

“Ruwet Pak, syaratnya banyak, pakai jaminan dan belum tentu dapat Pak,” jawab ibu pemilik warung lugas.

“Gitu ya Bu. Baik Bu berapa semuanya, tadi nambah kerupuk 3? ”tanya saya.

 

Setelah berbasa-basi dan membayar, saya akhirnya pergi meninggalkan warung lalapan tersebut. Saya putuskan untuk pulang saja karena tanpa di sengaja saya sudah mendapat bahan untuk tulisan feature lomba karya tulis koperasi dan UKM saya.

 

Secara logika saja apabila memang koperasi digadang sebagai soko guru perekonomian Indonesia maka bank plecit seharusnya tidak ada. Dari hasil googling maka salah satu fungsi utama koperasi adalah untuk memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai sokogurunya (UU No.25 Tahun 1992). Dari sini sudah jelas bahwa yang seharusnya ada adalah koperasi dan bukannya bank plecit. Untuk mewujudkan fungsi utama koperasi tersebut maka koperasi harus dikelola secara modern. Koperasi Coop dan Migros (keduanya di Eropa) adalah bukti nyata bahwa apabila koperasi di kelola secara modern maka fungsi utama dari koperasi akan terwujud. Koperasi Semen Gresik dan Koperasi Telkomsel juga merupakan bukti nyata pengelolaan koperasi yang baik. Koperasi di seluruh Indonesia harus belajar pada mereka. Kita pelajari strategi bisnis mereka. Koperasi era modern bukan hanya sekedar ajakan. Menurut Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharam bahwa diperlukan tindakan kongkrit untuk melakukan reformasi koperasi, baik dalam cara pandang, maupun dalam pengelolaan koperasi secara baik dan benar. Untuk melaksanakan itu diperlukan langkah terencana, konseptual dan berkesinambungan untuk mewujudkan kemandirian koperasi (http://www.depkop.go.id).

 

Singkat cerita Koperasi Modern harus benar-benar beda dengan koperasi-koperasi yang ada selama ini di Indonesia. Strategi, manajemen, sumber daya manusia, teknologi harus modern dan yang pasti warung-warung lesehan seperti di jalan Kalimantan Kabupaten Jember dan UKM lainnya yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia harus bisa direkrut dan di bina jadi anggota. Ubah mindset secara total. Koperasi modern harus bersifat terbuka bagi siapa saja yang menjadi anggota. Jangan tunggu mereka datang untuk mendaftar jadi anggota tapi koperasi modern harus jemput bola. Sehingga rentenir-rentenir seperti bank plecit tidak akan ada lagi. Koperasi modern berarti tidak ada bank plecit lagi di Indonesia. Dan ini salah satunya adalah tugas besar Departemen Koperasi Indonesia sebagai regulator tertinggi dalam bidang koperasi di Indonesia untuk mewujudkannya. Ayo bangkitlah koperasi Indonesia (Ido/Juli/2017).

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: